Selasa, 12 Februari 2013

Allah Mengembalikan Nyawa Bapak Saya

(Artikel ini pernah saya publish di blog lama saya yang telah terhapus. Artikel ini berisi kejadian yang sangat berarti untuk saya. Bukan hanya karena pengalaman pribadi, namun juga bisa mengingatkan saya untuk senantiasa bersyukur pada Dzat Yang Maha Pemurah. Untuk itulah saya posting ulang di sini. Smoga bermanfaat!

Selasa kemarin adalah hari yang mungkin tidak akan pernah saya lupakan. Hari dimana Sang Penguasa Dunia dan Akhirat menunjukkan kebesaran-Nya dan juga cinta-Nya. Yakni saat Sang Khalik mengembalikan nyawa bapak saya ke tubuhnya.

Pagi itu, sekitar pukul 9an, saya berada di kamar, duduk di depan komputer. Saat sedang asyik browsing internet, tiba-tiba terdengar suara benda jatuh yang sangat keras. Bukk!!..Thakk!!.. 

Spontan saya keluar kamar untuk melihat apa yang jatuh. Di depan kamarnya, bapak saya tergeletak, telentang di lantai. Bapak terjatuh. Dia berusaha bangun tapi tidak bisa. Bahkan mengangkat kepalanya pun tidak bisa. Tangannya masih bergerak, berusaha menggapai. Karena dia masih bergerak, maka saya berniat keluar rumah mencari pertolongan. Namun baru beberapa langkah hendak kaluar, saya melihat bapak semakin mengkhawatirkan. Saya takut terlambat. Maka saya kembali ke bapak setelah berteriak keras minta tolong.

Laki-laki yang dulu begitu gagah dengan seragam dinasnya itu begitu tak berdaya. Tergeletak di lantai yang dingin tanpa saya bisa mengangkatnya. Saya ingin meletakkan kepalanya di pangkuan saya tapi saya takut lehernya patah karena posisi jatuhnya. Matanya mengerjap, melihat ke atas. Mulutnya bergerak seperti mengatakan sesuatu entah apa. Saya hanya bisa bersimpuh di dekat kepalanya. 

Lalu nafasnya mulai tersengal. Matanya masih terbuka dan ia mengeluarkan suara seperti mendengkur yang tidak biasa. Dengkuran itu semakin jelas. Hati saya hancur. Apakah bapak sedang menghadapi sakaratul maut?... Ini waktunya?... Tanpa pikir apapun segera saya bisikkan lafadz ‘Laa ilaaha illallah’ berkali-kali di telinganya. Sampai para tetangga berdatangan mencoba memberi pertolongan pertama, kalimat itu terus saya bisikkan. 

“Kok iso ngene iki mau piye (kok bisa seperti ini tadi kenapa)?” tanya seorang tetangga yang tidak saya jawab karena mulut saya terus membisikkan kalimat tauhid itu ke telinga bapak. Terus-terusan. Saya hanya ingin menuntunnya seperti ketika ia menuntun saya sewaktu kecil, membaca bacaan-bacaan doa sehari-sehari. Seperti ketika dulu ia mengenalkan saya pada huruf Hijaiyah…. 

Saya tahu saya tak akan bisa menghalangi Malaikat Maut yang sedang menjalankan perintah Sang Pemilik Kehidupan. Namun jika itu terjadi, saya ingin semuanya berakhir dengan khusnul khotimah. Jangan sampai bapak diperdaya syaitan di saat-saat kritisnya. Karena saat seseorang mengalami sakaratul maut, syaitan mengerumuninya dalam berbagai bentuk dan cara untuk menyesatkan manusia di akhir hidupnya. 

Lalu ia menutup mata dan mulut nya pun diam. Suara dengkuran itu tak terdengar lagi. Bapak diam. Benar-benar diam. Nafasnya hilang. Saya tidak peduli, kalimat tauhid itu terus saya bisikkan. Semakin keras. Dan kencang…. Sementara ibu mencoba merangsangnya dengan minyak gosok aroma therapy dan beberapa orang tetangga memijit titik-titik refleksi di kakinya. 

Melihatnya diam kaku, dalam hati saya pasrah walau tak siap. Kalimat ‘Laa ilaaha illallah’ terus saja saya bisikkan sambil membelai wajahnya, persis seperti yang biasa ia lakukan jika saya menangis waktu kecil. Laa ilaaha illallah… Laa ilaaha illallah….Laa ilaaha illallah…

Lalu keajaiban seakan terjadi. Bapak mulai bereaksi. Ia mulai bernafas. Lalu matanya membuka. Pelan-pelan dia mulai sadar. Dia bisa bangun, menggerakkan tangan dan kakinya dengan sempurna. Allah Yang Maha Cinta telah mengembalikannya kepada kami. “Ono opo?” Tanya bapak setelah sadar.
Lalu seorang tetangga yang kebetulan adalah seorang dokter koas datang dan memeriksa ayah. Tensi 190…. Lalu sekitar 15 menit kemudian, dicek tensi menjadi 160. Sorenya saat diperiksa rumah sakit Bethesda, tekanan darahnya telah normal. 130. Dokter bilang tidak apa-apa.

Terus terang, saya tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Namun apapun itu, tiada hentinya rasa syukur itu saya ucapkan. Subhanallah…. Allahu Akbar. Betapa Maha Besar Allah. Jika Dia hendak mengambil nyawa seseorang, maka itu mudah bagi-Nya. Dan jika Dia berkehendak, Dia dengan mudah pula mengembalikan nyawa ke tubuh hambaNya. Dan inilah bukti kebesaranNya. Dan juga kasih sayang-Nya kepada kami. Maka sungguh kami adalah orang-orang yang merugi jika tidak mensyukuri nikmat yang luar biasa ini.

“Maka nikmat yang manakah dari Tuhan kamu yang kamu dustakan?” (QS. Ar Rahman:13)

(Image from Google)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar