Kamis, 10 Desember 2015

Mengapa Belajar Bahasa Isyarat Menjadi Penting?

Orang-orang dengan gangguan pendengaran masih sering kesulitan untuk berbaur dengan masyarakat.Di lain pihak, masyarakat sendiri juga kesulitan untuk berinteraksi dengan mereka.  Hal ini tak lain karena faktor komunikasi.

Orang-orang tuli--teman-teman dengan gangguan pendengaran di Yogyakarta lebih suka menyebut diri mereka 'tuli' dibandingkan dengan istilah 'tunarungu'--berkomunikasi dengan bahasa yang tidak semua orang bisa memahaminya, sementara mereka juga tidak selalu bisa  mengerti bahasa verbal

Akibat masalah komunikasi inilah, teman-teman tuli seringkali terpinggirkan. Hal yang lebih parah adalah manakala ada seorang perempuan tuli yang menjadi korban kekerasan seksual. Bukan hanya APH (Aparat Penegak Hukum) yang akan kesulitan, namun juga pendampingnya--jika tidak mengerti Bahasa Isyarat--juga akan kesulitan untuk membantu korban.

Hal inilah yang menjadi salah satu latar belakang mengapa HWDI DIY (Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia-Daerah Istimewa Yogyakarta) mengadakan Training Bahasa Isyarat pada 28 dan 29 Nopember lalu, setelah 2 hari sebelumnya mengadakan Training Pemahaman CRPD (Convention on the Right of Persons with Disabilities). Baik Training Pemahaman CRPD maupun Training Bahasa Isyarat merupakan bagian dari Program Koalisi HWDI atau biasa disebut dengan Program PIK-PPD (Pusat Informasi dan Konsultasi bagi Perempuan Penyandang Disabilitas). Program yang didukung oleh Disability Rights Fund ini dilakukan di Yogyakarta, Jambi, Padang dan Sidoarjo. Untuk Untuk wilayah Yogyakarta, Program PIK-PPD ini dilakukan oleh HWDI DIY. Training-training ini diikuti oleh 10 orang perempuan dengan disabilitas dari Daerah Istimewa Yogyakarta serta 3 orang peserta peninjau dari P2TP2A Sleman, P2TP2A Bantul dan Advokat. 

Sedikit tentang Training Pemahaman CRPD kemarin. Mas Tata Taufik, Sang Fasilitator, selain menyinggung soal hak-hak penyandang disabilitas dan HAM, juga menekankan tentang apa itu aksesibilitas, akomodasi yang layak, serta cara berinteraksi dengan penyandang disabilitas. Disinggung pula tentang asesmen pada penyandang disabilitas.

Kembali ke soal Training Bahasa Isyarat. Prosesnya cukup menyenangkan, apalagi Fasilitator, Mas Omar Chasidy, menyertakan juga 2 orang teman tuli untuk membantu proses pembelajaran.



Awalnya, Fasilitator memberikan pengantar terkait ketulian, mulai dari sebab, deteksi dini, maupun cara berinteraksi. Diperkenalkan juga tentang komunikasi alternatif untuk tuli. Komunikasi alternatif dapat dilakukan dengan cara: pertukaran gambar, menggunakan bahasa tulisan, dan dengan gerak tubuh (bahasa tubuh). Peserta juga diajak praktek untuk melakukan komunikasi dengan pertukaran gambar.
komunikasi alternatif 


contoh komunikasi alternatif dengan pertukaran gambar

Hal yang paling menarik bagi peserta adalah saat praktek Bahasa Isyarat. Peserta diajarkan untuk mengenal angka, alfabet, kata kerja sederhana, kata benda, kata sifat, serta diajarkan membuat kalimat sederhana dan percakapan sederhana. Video training bahasa isyarat bisa dilihat di sini.



saat peserta dengan disabilitas netra belajar bahasa isyarat 

Jujur, waktu yang hanya 2 hari tersebut masih sangat kurang untuk memahami Bahasa Isyarat. Namun demikian, dengan training ini setidaknya peserta bisa memahami Bahasa Isyarat dalam tingkat dasar, apalagi peserta juga diperkenalkan dengan metode komunikasi alternatif dengan pertukaran gambar.

Dari proses training bahasa isyarat kemarin, ada point penting yang bisa diambil, yakni:

  • Bahwa masyarakat yang inklusif akan terwujud apabila, salah satunya, ada komunikasi yang inklusif. Artinya tidak ada satu orangpun atau satu kelompok orang yang tersisihkan hanya karena masalah komunikasi, termasuk komunitas tuli yang berkomunikasi dengan Bahasa Isyarat.
  • bahwa diperlukan suatu pemahaman bahwa Bahasa Isyarat merupakan salah satu dari jenis bahasa, sebagaimana Bahasa Inggris, Bahasa Perancis, dan sebagainya. Artinya, Bahasa Isyarat bukanlah bahasa yang eksklusif, namun sebuah bahasa yang bisa dipelajari oleh siapapun dan digunakan oleh siapapun.

Foto bareng peserta, fasilitator dan panitia
Berikut video training bahasa isyarat yang diselenggarakan HWDI DIY:





Comments
4 Comments

4 komentar:

  1. maaf mau tanya,,, kantor hwdi dimana ya, kalau mau minta data bisa apa ngak ya,

    BalasHapus
    Balasan
    1. coba saja kontak email:hwdidiy@gmail.com

      Hapus
    2. salam inklusi mba dwisuka....aku tertarik dengan kegiatan ini namun kami di kupang NTT mungkinkah kegiatan seperti ini ada di kupang? klwpun tidak kami minta di share materinya dong....emailku yafaslay@yahoo.com

      Hapus
    3. Salam inklusi, Pak Yafas.

      Program PIK HWDI sayangnya tidak meliputi Kupang. Namun saya yakin kegiatan seperti ini bisa juga dilakukan di Kupang. Saya dengar program disabilitas di Kupang banyak juga, dan lembaga donor banyak yang melirik Kupang.

      Oya, untuk materi pelatihan bahasa isyarat sudah ada dalam bentuk video. Bisa di-download di: https://www.youtube.com/watch?v=XhQ7XDCrSEc

      Hapus